“Ojo Getunan, ojo Gumunan, ojo Kagetan, ojo Aleman.”

Negara Indonesia memang sangat terkenal dengan keberagaman budaya dan keberagaman sukunya. Tak hanya itu, setiap suku yang terdapat di negara Indonesia juga memiliki kebudayaan yang berbeda  – beda yang juga menghasilkan beberapa filosofi yang di anut dari budayanya. Salah satu contohnya adalah suku Jawa.

Suku Jawa di Indonesia memiliki keunikannya tersendiri. Keunikan yang di miliki suku Jawa bisa di lihat dari bahasanya, tariannya, kulinernya, musiknya  bahkan sampai filosofinya pun terbilang sangat unik dan penuh arti.

Berbicara tentang filosofi di dalam bahasa jawa, ada ratusan atau bahkan ribuan yang bisa dibahas dan dijabarkan maknanya. Filosofi – filosofi tersebut sebenarnya bersumber dari kitab-kitab klasik Jawa. Selain itu, filosofi – filosofi yang penuh makna itu pun bisa di sebut sebagai warisan yang tersebar dari mulut kemulut oleh para leluhur orang Jawa. Dari ratusan bahkan ribuan filosofi tersebut, ada sebuah filosofi yang sangat terkenal dalam budaya di suku Jawa, yaitu “Ojo getunan, ojo gumunan, ojo kagetan, ojo aleman.

Mungkin masyarakat di luar suku Jawa, tidak banyak yang tahu atau bahkan mengerti akan makna dari filososi tersebut. Namun, filosofi ini sangat di percaya dan sangat berarti untuk dijadikan sebagai pedoman bagi masing – masing pribadi khususnya bagi masyarakat suku Jawa. Pedoman ini diberikan kepada masyarakat khususnya suku Jawa untuk tetap berpegang pada kesederhanaan dan menuntun masyarakat untuk hidup bersyukur dan bahagia.

Walau nampak seperti kalimat yang sangat sederhana, namun filosofi ini memiliki arti yang sangat berharga sebagai kunci kehidupan yang menyenangkan. Arti dari filosofi tersebut adalah “Jangan mudah terkagum, jangan mudah kecewa, jangan mudah terkejut, dan jangan manja.” Memang terlihat jelas bahwa filosofi ini terlihat hanya sebuah larangan biasa. Nah untuk mengetahui maksud dari larangan – larangan tersebut, saya akan membahas makna dari filosofi tersebut lebih dalam lagi.

Ojo Getunan

Yang pertama adalah “Ojo Getunan!.” sebagai manusia biasa, kira harus selalu siap menghadapi takdir dan segala hal buruk yang bisa menimpa diri kita kapan saja. Karena kembali lagi bahwa kita hanya manusia biasa yang memang tidak mungkin mampu memprediksi hal-hal yang ada di luar batas kemampuan kita sebagai umat manusia. Kita juga tidak akan pernah mampu melawan takdir yang sudah di tuliskan oleh Tuhan YME. Misalnya, kita meminjami teman terdekat kita sejumlah uang, dengan keyakinan bahwa teman kita ini akan mengembalikannya. Namun ternyata teman kita ini justru pura-pura lupa atau bahkan mengelak.

Dalam hal ini, filosofi ini melatih kita untuk belajar ikhlas, legowo atau berlapang dada. Segala hal yang kita pilih untuk lakukan pasti akan ada konsekuensi dan balasannya. Jadi, maksud dari filosofi ini adalah untuk tidak mudah menyesal ketika kita melakukan sesuatu atau segala hal yang positif meskipun tidak memberikan dampak positif balik untuk kita.

Ojo Gumunan

            Beberapa orang memaknai ojo Gumunan dengan banyaknya orang yang mengalami kekagetan atau misalnya gegar budaya (culture shock.) Sederhananya saja, ada banyak contoh nyata di kehidupan kita saat ini.

Salah satunya, jika kita memperhatikan beberapa orang yang mendadak terkenal, mendadak jadi sangat kaya raya, mendadak jadi orang penting yang sangat penting atau pejabat dan seterusnya. Coba lihat dan amatilah apakah ada perubahan sikap dan perilakunya yang mendadak sangat drastis? Seperti contohnya gaya bicaranya, cara berpakaiannya, pakaian yang dikenakannya, tempat makannya, pergaulannya, dan yang lainnya. Pasti ada nampak perubahan – perubahan yang amat drastic. Yang sebelumnya hanya biasa makan siang di warteg karena tidak memiliki cukup uang untuk makan di tempat makan yang elit, lalu setelah kaya raya, tiba – tiba selalu makan di tempat elit setiap hari.

Contoh lainnya adalah jika ada seseorang yang tidak mampu untuk membeli sebuah kalung emas namun memaksakan kehendaknya hanya untuk agar terlihat se derajat dengan teman nya yang lebih mampu. Dengan dia memaksakan membeli kalung emas padahal kenyataannya dia tidak mampu, orang ini sudah menunjukkan sebuah perubahan karena kekagetannya.

Karena adanya perubahan – perubahan tersebut, maka orang – orang itu telah mengalami yang namanya culture shock. Tentu tidak ada yang salah, karena itu adalah pilihan hidup orang. Namun, maksud dari filosofi ini adalah untuk tidak menjadi orang yang berlebihan dalam merespon sebuah peristiwa atau perubahan. Tentunya, poin ini mengajarkan kesederhanaan dalam hidup.

Ojo Kagetan

            Poin yang ke tiga adalah “Ojo Kagetan.” Kata bijak ini bermakna jangan kagetan atau jangan mudah terkejut. Kita harus mau belajar untuk bersikap mawas diri, waspada dan fleksibel. Karena seperti yang sudah di bahas di atas bahwa kita sebagai manusia biasa tidak bisa memprediksi hal – hal buruk yang akan dan bisa terjadi pada kita kapan pun. Selain itu, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Segala sesuatu bisa saja terjadi, entah itu hal positif atau hal negatif. Poin ini telah dengan jelas mengajarkan kita untuk hidup dengan penuh kehati – hatian dan waspada.

Ojo Aleman

           Yang terakhir adalah “Ojo Aleman.” Kata bijak ini bermakna jangan manja atau kolokan. Mungkin ini adalah kata yang sangat sederhana, namun ada yang bisa di petik dari kata bijak yang sederhana namun bermakna ini. “Aja Aleman” sendiri mengajarkan bahwa hidup itu tidak perlu gila akan pujian dan sanjungan, sedikit-sedikit berkeluh-kesah.

Orang-orang yang cenderung manja atau kolokan biasanya akan membesar-besarkan sesuatu yang kecil dan cenderung suka meremehkan atau menyepelekan sesuatu yang sebenarnya besar atau bahkan penting. Dengan poin terakhir ini, kita bisa belajar bahwa hidup itu mesti diperjuangkan dengan penuh kegigihan, namun juga mengalirlah secara fleksibel dan bijak karena hidup kita adalah tanggung jawab kita masing masing.                

Dari penjelasan mengenai makna penting filosofi Jawa “Aja getunan, aja gumunan, aja kagetan, aja aleman,” dapat di simpulkan bahwa setiap poin di dalam filosofi itu adalah sebuah larangan dimana setiap larangan – larangan tersebut memberikan pelajaran yang sangat penting untuk di ingat. Tidak hanya untuk di ingat saja, namun perlu sekali di aplikasikan di dalam kehidupan kita demi berjalannya kehidupan yang baik.

Sebagai makhluk Tuhan yang sudah di karuniakan naluri dan kecerdasan, kita tidak boleh mudah menyesal dan harus berani menerima konsekwensi apapun di dalam hidup. Selain itu, kita juga tidak boleh mudah terheran – heran yang akan membawa kita ke jalan hidup yang berlebihan. Menjadi orang yang mudah kaget pun tidak baik karena akan menuntun kita ke kecerobohan.

Sifat manja manusia juga sangat harus di hindari. Artinya, sebagai manusia kita tidak boleh menjadi pribadi yang manja karena itu akan membawa kita menjadi pribadi yang tidak bersyukur dan tidak mau berjuang. Tidak hanya untuk masyarakat di suku Jawa, sebenarnya filosofi ini juga bisa di terapkan di kehidupan siapapun. Setiap larangan sangat jelas memberikan pelajaran.

Di era global ini, sudah semakin menipis anak – anak muda yang berpedoman pada nilai yang baik. Alangkah baiknya jika kita bisa menyebarkan kembali filosofi yang sangat bermakna ini agar bisa dipelajari oleh masyrakat, khususnya para penerus bangsa.

Leave a Reply